Lewati ke konten utama
Oktober 6, 2026Oleh Tim Node.IndoTrenesia.com
node.indotrenesia.com
Keamanan & Regulasi DeFi

Peretasan Bitget $387,5 Juta: Mengapa Ripple Tidak Bisa Membekukan XRP yang Dicuri Peretas?

September 27, 2026 · Oleh Tim Node.IndoTrenesia.com
Peretasan Bitget $387,5 Juta: Mengapa Ripple Tidak Bisa Membekukan XRP yang Dicuri Peretas?

Pelaku di balik peretasan bursa kripto Bitget senilai US$387,5 juta dilaporkan mulai memindahkan aset cadangan dalam jumlah besar. Sekitar US$83 juta dalam bentuk token XRP telah dialihkan dari dompet penampungan awal. Pergerakan ini memicu diskusi luas di kalangan komunitas aset digital mengenai batas-batas teknis pengawasan pada rantai blok (blockchain) terdesentralisasi, khususnya terkait kemampuan penerbit aset dalam mengintervensi transaksi yang sedang berlangsung.

Di tengah maraknya spekulasi publik, muncul pertanyaan penting: Mengapa perusahaan seperti Ripple maupun pengembang XRP Ledger tidak bisa serta-merta menghentikan transaksi atau membekukan dompet yang dikuasai oleh peretas? Memahami perbedaan antara koin terikat protokol (native token) dan token terbitan (issued assets) menjadi kunci utama untuk menavigasi realitas keamanan aset digital saat ini.

Kronologi Pemindahan Dana dan Jalur Pergerakan XRP

Insiden pembobolan Bitget yang terjadi pada hari Kamis awal pekan ini awalnya diperkirakan berada di angka yang lebih rendah, sebelum bursa memperbarui estimasi total kerugian menjadi US$387,5 juta pada hari Jumat. Peningkatan estimasi ini mencakup pengalihan aset Zcash dan TRON yang sempat terlewat dalam audit awal, di mana pihak bursa menegaskan bahwa penyesuaian angka tersebut merupakan bagian dari insiden yang sama, bukan akibat serangan susulan.

Dalam aksi peretasan tersebut, hampir 103 juta token XRP berhasil dikuras dan langsung dipecah ke dalam lima dompet penampungan utama. Pada saat kejadian, total dana XRP tersebut bernilai sekitar US$160 juta, atau setara dengan kurang lebih 4% dari total volume perdagangan harian XRP yang dilaporkan mencapai US$4,4 miliar.

Berdasarkan penelusuran data pada XRP Ledger hingga Sabtu pukul 12:41 UTC, dinamika dompet peretas menunjukkan pergerakan yang sangat agresif:

  • Dua dompet penampungan yang semula masing-masing menyimpan 20 juta XRP telah dikuras hingga hampir bersih, hanya menyisakan sekitar 23 dan 55 token.
  • Dompet penampungan ketiga mengalami penurunan saldo drastis hingga tersisa sekitar 5,8 juta XRP.
  • Aktivitas transfer terpantau melonjak signifikan dalam rentang waktu singkat. Pada pukul 04:32 UTC Sabtu, sekitar 70 juta token masih tersisa di lima dompet awal. Namun sekitar delapan jam kemudian, saldo tersebut merosot menjadi 49 juta token.
  • Secara keseluruhan, sekitar 54 juta XRP telah meninggalkan dompet holding awal untuk didistribusikan ke jaringan dompet baru. Meski begitu, data transaksi belum menunjukkan berapa banyak dari koin tersebut yang telah benar-benar dijual ke pasar terbuka.

Pola transaksi peretas juga memperlihatkan pengujian saldo secara sistematis. Dalam salah satu insiden transfer, percobaan pengiriman sekitar 521.000 XRP sempat gagal akibat saldo akun tidak mencukupi. Sekitar satu jam kemudian, dompet kedua mengirimkan jumlah yang persis sama ke alamat tujuan yang dimaksud.

Mengapa Ripple Tidak Bisa Membekukan XRP Native?

Banyak pengamat luar industri berasumsi bahwa Ripple—sebagai perusahaan teknologi yang memanfaatkan XRP Ledger—memiliki kendali langsung untuk menghentikan alur dana ilegal. Namun, secara arsitektur teknis, terdapat batasan mendasar antara kontrol penerbit atas token yang diterbitkan (issued tokens) dengan aset aset dasar (native asset) seperti XRP.

XRP Ledger (XRPL) memang memiliki fitur khusus yang memungkinkan entitas bisnis untuk membekukan token yang mereka terbitkan di atas jaringan tersebut. Modul kontrol ini memungkinkan institusi keuangan mematuhi regulasi pencegahan pencucian uang. Namun, fitur pemblokiran atau freeze capability ini secara teknis tidak berlaku bagi aset native XRP itu sendiri.

Protokol dasar XRP Ledger dibuat agar tidak ada satu pun entitas terpusat—termasuk Ripple—yang memiliki wewenang atau kode fungsi bawaan untuk membekukan, menyita, atau membatal-transaksikan token XRP dari dompet mana pun yang kunci privatnya dipegang oleh pengguna.

Kondisi ini sangat kontras dengan cara kerja penyedia stablecoin terpusat seperti Circle (penerbit USDC) dan Tether (penerbit USDT). Dalam insiden yang sama, Circle dan Tether dapat bergerak cepat membekukan sekitar US$320.000 dalam bentuk stablecoin yang terhubung dengan alamat peretas. Hal ini dimungkinkan karena kontrak pintar (smart contract) USDC dan USDT dirancang dengan fungsi daftar hitam (blacklist) bawaan.

Tanpa adanya fitur pembekuan pada level protokol native, upaya pemulihan dana XRP murni bergantung pada tindakan pencegahan di pintu keluar (off-ramp). Jika peretas mencoba mentransfer XRP curian ke bursa terpusat (centralized exchange), pihak bursa yang menerima dapat membekukan akun penerima dan mencegah penarikan mata uang fiat atau aset lain. Namun, selama koin tersebut tetap berada di dompet non-kustodial milik peretas, tidak ada pihak yang dapat menghentikan pengalihannya.

Dampak Pasar dan Rencana Pemulihan Operasional Bitget

Di pasar spot, harga XRP tercatat berada di kisaran US$1,54 pada hari Sabtu, mengalami penurunan sekitar 4% dalam kurun waktu 24 jam. Meski demikian, aset ini masih mempertahankan kenaikan mingguan sekitar 9% berdasarkan data CoinGecko. Sejauh mana potensi penjualan oleh peretas akan memengaruhi pergerakan harga pasar sangat bergantung pada kedalaman likuiditas (market depth) serta susunan permintaan (buy orders) yang tersedia saat transaksi terjadi.

Dari sisi perlindungan pengguna, manajemen Bitget memastikan bahwa seluruh dana pelanggan berada dalam kondisi aman dan tidak terdampak oleh pembobolan tersebut. Bursa mengonfirmasi bahwa seluruh nilai kerugian akan ditutup sepenuhnya menggunakan cadangan dana perlindungan internal (Protection Fund).

Untuk memastikan keamanan sistem pasca-insiden, Bitget telah menyusun jadwal pemulihan layanan penarikan dana secara bertahap bagi para penggunanya:

  1. 28 September: Pembukaan kembali penarikan Bitcoin (BTC).
  2. 29 September: Pembukaan kembali penarikan Ether (ETH).
  3. 30 September: Pembukaan kembali penarikan Tether (USDT).
  4. 2 Oktober: Pembukaan kembali penarikan untuk token dan aset digital lainnya.

Navigasi Risiko: Pelajaran Penting Mengenai Desentralisasi Aset

Peristiwa ini memberikan gambaran nyata bagi pelaku pasar mengenai dualitas dalam ekosistem aset digital. Di satu sisi, desentralisasi pada protokol aset dasar seperti XRP menjamin kedaulatan transaksi tanpa kepemilikan terpusat. Namun di sisi lain, sifat keterbukaan dan ketiadaan pembekuan terpusat ini juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk memindahkan dana tanpa hambatan teknis di tingkat rantai blok.

Pemahaman mengenai perbedaan antara keamanan kustodial di bursa terpusat, fitur kontrol pada stablecoin, dan sifat koin native pada rantai blok menjadi pondasi penting bagi investor dalam menilai lanskap risiko aset digital secara obyektif dan terukur.

Sumber referensi: CoinDesk
CATATAN PENTING

Pahami konteksnya. Kelola risikonya. Lakukan DYOR.

Konten node.indotrenesia.com dibuat untuk edukasi dan navigasi informasi aset digital, bukan ajakan membeli, menjual, atau membuka posisi tertentu. Pahami risikonya, lakukan DYOR (Do Your Own Research), dan gunakan penilaianmu sendiri.

node.indotrenesia.com
01EDUKASIPahami konteks
02RISIKOPahami batasnya
03DYORRiset sendiri