Proyek stablecoin Open USD (OUSD) resmi meluncur dan beroperasi di empat jaringan blockchain utama, yaitu Ethereum, Solana, Base, dan Tempo. Proyek yang dikembangkan oleh Open Standard ini hadir dengan dukungan dari lima mitra pendiri awal: Coinbase, Mastercard, Shopify, Stripe, dan Visa. Kelompok perusahaan teknologi dan keuangan global ini berkomitmen menyediakan likuiditas awal lebih dari $1 miliar untuk mendukung adopsi OUSD dalam ekosistem pembayaran, perbankan, serta perdagangan institusional.
Sebagai informasi dasar, stablecoin merupakan aset digital yang nilainya dirancang terikat (pegged) dengan mata uang fiat, seperti Dolar AS, guna menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas pasar kripto. Kehadiran OUSD menandai babak baru persaingan di industri stablecoin yang kini bernilai lebih dari $300 miliar, pasar yang sejauh ini masih didominasi oleh Tether (USDT) dengan pasokan sekitar $143 miliar dan Circle (USDC) dengan sekitar $74 miliar.
Mekanisme Ekonomi: Berbagi Ekuitas dan Menghapus Biaya Minting/Burning
Salah satu pembeda utama Open USD dari penerbit stablecoin konvensional terletak pada struktur insentif ekonominya. Pada umumnya, penerbit stablecoin memperoleh pendapatan dari bunga atas cadangan kas dan obligasi yang disimpan untuk mem-back token mereka. Tether sebagian besar menyimpan pendapatan imbal hasil tersebut, sementara Circle membagi sebagian pendapatan cadangan dengan mitra distribusi utama seperti Coinbase.
Open Standard mengambil pendekatan yang berbeda. CEO Open Standard, Zach Abrams—yang sebelumnya mendirikan perusahaan infrastruktur stablecoin Bridge sebelum diakuisisi Stripe senilai $1,1 miliar pada 2024—menjelaskan bahwa mitra pendiri tidak menerima porsi pendapatan bunga secara khusus. Sebaliknya, porsi terbesar ekuitas (cap table) Open Standard akan didistribusikan secara bertahap dalam jangka waktu 4 hingga 5 tahun kepada para mitra pendiri maupun anggota jaringan berdasarkan kontribusi mereka.
Indikator kontribusi tersebut diukur melalui kombinasi antara pertumbuhan pasokan OUSD yang mereka ciptakan serta volume aktivitas transaksi yang dihasilkan. Dengan skema ini, para pelaku industri yang memfasilitasi penggunaan token didorong untuk tidak sekadar menyimpan OUSD di neraca keuangan, tetapi juga aktif menggerakkannya dalam sistem pembayaran.
Selain itu, Open USD juga meniadakan biaya pencetakan (minting fee) dan biaya penghancuran (burning fee). Minting adalah proses penerbitan token baru saat dana fiat disetorkan, sedangkan burning adalah proses penghapusan token dari peredaran ketika pengguna menukarkannya kembali ke mata uang fiat. Penghapusan biaya transaksi struktur ini berpotensi memberikan efisiensi biaya yang signifikan bagi institusi keuangan yang mentransfer dana dalam skala besar.
Struktur Tata Kelola dan Pembentukan Ekosistem Mitra
Sejak pertama kali diperkenalkan pada Juni lalu dengan 140 mitra awal, jaringan Open Standard kini telah berkembang mencakup lebih dari 200 perusahaan. Beberapa institusi keuangan global yang baru bergabung dalam jaringan mitra ini antara lain bank asal Swiss UBS, SBI Holdings dari Jepang, serta perusahaan fintech Jeeves. Sebelumnya, nama-nama besar seperti BlackRock, BNY, dan Standard Chartered juga tercatat dalam jaringan kemitraan awal tersebut.
Meski melibatkan banyak entitas besar yang beberapa di antaranya saling bersaing, Zach Abrams menegaskan bahwa Open Standard tidak beroperasi sebagai konsorsium berbasis komite yang lambat dalam mengambil keputusan. Perusahaan tetap dikelola secara independen oleh jajaran manajemen, sementara kelompok mitra pendiri yang terdiri dari Coinbase, Mastercard, Shopify, Stripe, dan Visa memegang saham awal dalam porsi yang sama.
Ke depan, kelompok pendiri ini direncanakan membesar hingga mencakup sekitar 10 sampai 12 perusahaan yang akan membentuk dewan direksi. Masing-masing mitra pendiri dapat memanfaatkan OUSD sesuai kebutuhan operasional mereka, seperti menyimpannya di neraca keuangan, menyediakannya secara onchain, atau berperan sebagai penyedia likuiditas (market maker).
Prospek Jaringan Multichain dan Penggunaan Lintas Mata Uang
Pemilihan infrastruktur blockchain dalam peluncuran awal OUSD mencakup jaringan lapis pertama (Layer 1) seperti Ethereum dan Solana, serta jaringan lapis kedua (Layer 2) seperti Base dan Tempo. Dan Romero, Chief Business Officer di Tempo—jaringan blockchain yang didukung Stripe—menyatakan bahwa Tempo menargetkan untuk menjadi pusat likuiditas terdalam bagi OUSD.
Tempo memproyeksikan potensi pertumbuhan pasokan OUSD di jaringannya dapat mencapai sekitar $1 miliar dalam beberapa bulan pertama, meningkat hingga lebih dari $10 miliar pada tahun 2027, dan berpotensi melampaui $100 miliar dalam beberapa tahun berikutnya.
Di samping itu, kebutuhan pasar tidak hanya terbatas pada token berbasis Dolar AS. Zach Abrams mengungkapkan bahwa jaringan mitranya mulai menunjukkan permintaan terhadap stablecoin berdenominasi mata uang lain. Pengalaman Bridge yang pernah menerbitkan token beragunan Euro untuk Revolut menjadi indikasi awal bahwa ekspansi ke mata uang fiat non-USD merupakan peluang yang logis di masa mendatang.
Hal yang Perlu Diperhatikan Pembaca
Peluncuran Open USD memberikan sudut pandang baru mengenai evolusi infrastruktur aset digital di sektor pembayaran global. Bagi pembaca dan pelaku pasar, terdapat beberapa poin kunci yang patut dicermati:
- Persaingan Dominasi Pasar: Meskipun OUSD disokong oleh entitas finansial skala besar, pasar stablecoin saat ini masih sangat terkonsentrasi pada USDT dan USDC. Keberhasilan OUSD akan sangat bergantung pada seberapa cepat para mitra mengintegrasikan token ini ke dalam jalur pembayaran kartu, penyelesaian transaksi lintas negara (cross-border payments), dan perbankan harian.
- Efektivitas Eksekusi Insentif: Model pembagian ekuitas berdasarkan volume transaksi merupakan eksperimen struktur bisnis yang bertujuan meratakan manfaat ekonomi. Tingkat ambang batas (threshold) minimum yang harus dipenuhi mitra untuk memperoleh hak ekuitas ini masih belum dipublikasikan secara mendetail oleh perusahaan.
- Integrasi Terintegrasi Lintas Platform: Ketersediaan OUSD di empat rantai blockchain berbeda memperluas aksesibilitas teknis, tetapi sekaligus menuntut pengelolaan likuiditas yang terintegrasi agar tidak terjadi fragmentasi pasar di antara jaringan-jaringan tersebut.
Secara keseluruhan, masuknya raksasa pembayaran tradisional dan platform kripto utama dalam satu kerangka kerja penerbitan stablecoin menunjukkan bahwa kompetisi aset digital kini bergeser dari sekadar penerbitan token menuju otomatisasi dan efisiensi rantai distribusi keuangan global.

