Lewati ke konten utama
Oktober 6, 2026Oleh Tim Node.IndoTrenesia.com
node.indotrenesia.com
Pasar Aset Digital

Dampak Geopolitik: Bitcoin dan Berjangka Nasdaq Melemah di Awal Pekan

September 28, 2026 · Oleh Tim Node.IndoTrenesia.com
Dampak Geopolitik: Bitcoin dan Berjangka Nasdaq Melemah di Awal Pekan

Pasar aset digital dan bursa keuangan global mengawali pekan dengan kecenderungan melemah akibat munculnya kembali sentimen ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pada pukul 03:30 UTC, harga Bitcoin (BTC) mencatatkan penurunan sebesar 1,3% ke level $83.324, sementara kontrak berjangka (*futures*) indeks Nasdaq yang berbasis teknologi di Wall Street terkoreksi 0,7%.

Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa pemerintahannya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan serangan militer tambahan terhadap Iran sebelum pemilihan umum sela (*midterm elections*) pada awal November mendatang.

Retorika Geopolitik dan Reaksi Lintas Aset

Dalam wawancaranya bersama Fox News, Trump menyatakan harapannya agar konflik dengan Iran dapat berakhir dalam waktu dekat. Namun, ketika ditanya mengenai potensi tindakan militer lanjutan, ia memilih untuk tidak memastikannya secara eksplisit.

“Saya tidak ingin mengatakan itu. Maksud saya, itu mungkin saja terjadi, tetapi saya hanya tidak ingin mengatakannya,” ujar Trump terkait kemungkinan dilanjutkannya aksi militer.

Ia menegaskan bahwa AS bertekad memenangkan konflik melalui tekanan militer dan ekonomi. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihaknya siap menghadapi potensi konflik berlanjut, bahkan memperingatkan kesiapan menghadapi skenario perang yang lebih parah.

Di Sidang Majelis Umum PBB, pihak Iran sempat mengajukan usulan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz—jalur distribusi minyak krusial yang terganggu akibat perang—selama tujuh hari disertai penangguhan pertempuran. Namun, Trump menolak usulan tersebut dengan alasan Iran mengajukan kesepakatan karena berada di bawah tekanan berat, seraya menegaskan kembali melalui platform Truth Social bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Sentimen geopolitik ini berdampak langsung pada pasar komoditas energi. Harga minyak mentah WTI berjangka naik hampir 1% menjadi $93,28 per barel, sejalan dengan kenaikan pada minyak mentah jenis Brent. Di pasar kripto, aset kripto utama lainnya juga mengalami penurunan serupa, dengan Ether (ETH) diperdagangkan di level $2.648,38, diikuti oleh penurunan pada XRP dan Solana (SOL).

Ekspektasi Inflasi dan Lonjakan Yield Obligasi AS

Ketidakpastian geopolitik yang berlangsung sejak awal Maret terus memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini turut mendorong peningkatkan imbal hasil (*yield*) surat utang pemerintah AS (Treasury). Yield obligasi tenor 10-tahun telah melonjak sebesar 127 basis poin hingga menyentuh angka 5,20%, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2007.

Kenaikan yield Treasury ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan inflasi, spekulasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve), serta isu beban utang negara. Tingginya imbal hasil obligasi biasanya memberikan tekanan bagi aset berisiko karena investor mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dari instrumen berisiko rendah.

Meski sempat melemah pada awal tahun, Bitcoin menunjukkan pemulihan signifikan pada kuartal ketiga. Dalam periode tiga bulan terakhir, harga Bitcoin telah melonjak 42% dan berhasil mengungguli performa aset utama lain seperti indeks Nasdaq maupun emas.

Navigasi Risiko dan Level Kunci Teknis Bitcoin

Untuk membantu menyikapi dinamika pasar saat ini, pemahaman terhadap indikator teknis dan manajemen risiko menjadi hal yang sangat krusial bagi para pelaku pasar. Dalam analisis teknis, terdapat dua konsep penting:

  • Support: Area harga tertentu di mana minat beli diperkirakan cukup kuat untuk menahan penurunan harga lebih lanjut.
  • Resistance: Area harga di mana tekanan jual diperkirakan cukup tinggi sehingga menahan kelanjutan kenaikan harga.

Merespons situasi pasar terkini, Vikram Subburaj, CEO bursa kripto Giottus yang berbasis di India, memberikan pandangan analisis teknis dan panduan navigasi risiko:

“Bagi investor, zona $83.800–$84.000 merupakan area support jangka pendek yang penting. Sementara area $85.000–$85.800 menjadi zona resistance terdekat. Sangat bijak untuk menghindari tindakan mengejar reli (*chasing the rally*) pada tingkat harga saat ini,” jelas Subburaj.

Subburaj menyarankan agar pelaku pasar membatasi penggunaan *leverage* (penggunaan dana pinjaman untuk memperbesar posisi perdagangan) dan menerapkan metode masuk bertahap (*staggered entries*). Strategi ini berguna untuk mengelola volatilitas saat pasar merespons arus dana keluar-masuk ETF, pergerakan yield Treasury, serta rilis data ekonomi makro AS.

Faktor Ekonomi Makro yang Perlu Diperhatikan

Pekan ini, perhatian pasar keuangan dan aset digital juga tertuju pada serangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data yang dijadwalkan rilis mencakup indikator inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures), Indeks Manufaktur ISM, serta data tenaga kerja *nonfarm payrolls*.

Hasil rilis data makroekonomi ini diproyeksikan akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah kebijakan suku bunga Fed ke depan, yang secara langsung dapat memengaruhi arah pergerakan arus modal pada pasar aset digital.

Sumber referensi: CoinDesk
CATATAN PENTING

Pahami konteksnya. Kelola risikonya. Lakukan DYOR.

Konten node.indotrenesia.com dibuat untuk edukasi dan navigasi informasi aset digital, bukan ajakan membeli, menjual, atau membuka posisi tertentu. Pahami risikonya, lakukan DYOR (Do Your Own Research), dan gunakan penilaianmu sendiri.

node.indotrenesia.com
01EDUKASIPahami konteks
02RISIKOPahami batasnya
03DYORRiset sendiri