Dinamika pasar aset digital kerap menghadirkan kondisi yang tampak kontradiktif bagi para pengamat dan pelaku pasar. Salah satu contohnya terjadi ketika indikator teknis atau data on-chain menunjukkan sinyal bullish yang sangat kuat, namun harga aset di pasar spot justru mengalami tekanan atau pendinginan. Situasi inilah yang saat ini sedang melingkupi pergerakan Bitcoin (BTC).
Berdasarkan data terbaru dari firma analisis on-chain CryptoQuant, indikator tren yang disebut Bull Score sempat menyentuh angka 90 dari skala 100—hanya berjarak 10 poin dari skor sempurna. Kendati demikian, kenaikan harga Bitcoin yang sempat menembus level tertinggi dalam delapan bulan terakhir di kisaran $87.400 mulai tertahan dan terkoreksi ke kisaran $83.300, sebelum bergerak tipis naik 0,4% pada perdagangan sesi pagi kawasan Asia.
Untuk memahami mengapa kenaikan indikator ini tidak langsung diiringi oleh kelanjutan reli harga, penting bagi pembaca untuk meneliti keterkaitan antara metrik on-chain, dinamika permintaan riil di pasar spot, serta aktivitas di pasar derivatif.
Divergensi Indikator Tren dan Permintaan Pasar Spot
Peningkatan Bull Score CryptoQuant hingga ke level 90 dipicu oleh keberhasilan harga Bitcoin menembus garis rata-rata pergerakan 365 hari (365-day moving average) pada pekan sebelumnya. Dalam metodologi analisis teknis, penembusan di atas indikator jangka panjang ini sering dianggap sebagai konfirmasi terbukanya fase pasar bergairah (bull market).
Namun, indikator berbasis data historis seperti ini memiliki sifat menyusul (lagging), sementara pergerakan harga harian sangat ditentukan oleh volume transaksi dan daya beli riil yang masuk ke pasar saat ini. Data CryptoQuant menunjukkan bahwa dorongan beli di pasar spot justru mulai mengendur bersamaan dengan pencapaian skor tinggi tersebut.
Guna mengukur tingkat ketertarikan pembeli secara riil, CryptoQuant menggunakan metrik yang disebut apparent demand (permintaan nyata). Metrik ini dihitung dengan membandingkan jumlah Bitcoin baru yang ditambang terhadap perubahan jumlah koin yang tidak berpindah tempat selama satu tahun atau lebih. Hasil analisis menunjukkan bahwa permintaan spot telah menyusut sekitar 170.000 BTC dalam 30 hari terakhir. Ini menandakan bahwa jumlah koin yang tersedia di pasar saat ini lebih besar dibandingkan kemampuan atau minat penyerapan oleh pembeli.
Penurunan Minat di Pasar Berjangka dan Aksi Ambil Untung
Selain pelemahan di pasar fisik (spot), penurunan laju juga terlihat signifikan di pasar kontrak berjangka (futures market). Pasar berjangka—yang menjadi tempat bagi para pedagang spekulatif menggunakan leverage—mengalami penurunan pertumbuhan permintaan yang sangat drastis.
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan permintaan spekulatif di pasar futures merosot hingga 90% dalam kurun waktu 15 hari. Pada 14 September, angka pertumbuhan sempat berada di kisaran 164.000 BTC, namun angka tersebut anjlok menjadi hanya 16.000 BTC per 29 September.
Penyebab lain dari tertahannya pergerakan naik ini adalah maraknya aksi ambil untung (profit-taking) oleh para pemegang aset. Investor yang membeli Bitcoin pada periode terkini tercatat mengantongi rata-rata keuntungan yang belum direalisasikan (unrealized profit) sebesar 33%. Angka ini merupakan marjin keuntungan terbesar yang tercatat sejak Desember 2024.
Puncak aksi pembekuan keuntungan ini terjadi pada 22 September, di mana para pemegang aset merealisasikan keuntungan atas 25.700 BTC. Angka ini mencatatkan volume profit-taking harian terbesar sepanjang tahun ini.
“Tanpa adanya permintaan baru, reli harga akan kesulitan untuk berlanjut,” ungkap Julio Moreno, Head of Research CryptoQuant dalam laporannya. “Dengan permintaan spot yang masih mengalami kontraksi dan pertumbuhan pasar berjangka yang melambat, potensi kenaikan harga jangka pendek menjadi semakin sulit untuk dipertahankan.”
Peningkatan Pasokan Altcoin ke Bursa Digital
Fenomena pendinginan harga tidak hanya dialami oleh Bitcoin. Pasar altcoin juga menunjukkan indikasi kehati-hatian dari para pemilik aset. CryptoQuant mengidentifikasi adanya peningkatan pengiriman aset altcoin ke bursa kripto (exchanges), yang secara umum dipahami sebagai persiapan untuk potensi penjualan.
Dalam kurun waktu tujuh hari, tercatat ada 76.000 transaksi deposit altcoin ke berbagai platform bursa yang dikirimkan dari 51.000 alamat dompet terpisah. Volume pengiriman ini merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2025. Ketika aset berpindah dari dompet pribadi ke bursa, likuiditas aset tersebut meningkat sehingga siap dieksekusi sewaktu-waktu jika terjadi kenaikan harga jangka pendek.
Meskipun demikian, beberapa aset utama masih mencatatkan pergerakan positif tipis. Solana (SOL) dan Zcash (ZEC) memimpin pergerakan aset berkapitalisasi besar dengan kenaikan hampir 2%, masing-masing berada di kisaran $119 dan sedikit di atas $1.400. XRP mencatatkan kenaikan sekitar 1% ke level di bawah $1.500, sementara Ether (ETH), BNB, dan TRON (TRX) menguat kurang dari 1% berdasarkan data CoinDesk.
Kontekstualisasi Makroekonomi dan Pembelajaran bagi Pemula
Pergerakan aset digital tidak lepas dari pengaruh kondisi makroekonomi global. Stabilisasi harga Bitcoin di kisaran $83.300 terjadi bersamaan dengan pemulihan di pasar saham Asia, di mana Indeks MSCI Asia Pacific menguat 0,9%. Saham SoftBank Group bahkan melonjak lebih dari 6% menyusul kabar bahwa startup AI, OpenAI, tengah menggalang dana segar sebesar $30 miliar dengan valuasi $1,4 triliun.
Saat ini, para pelaku pasar global tengah mencermati data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat. Indikator makro ini menjadi krusial karena menentukan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed):
- Angka Inflasi Tinggi: Meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang berpotensi memperkuat nilai tukar Dolar AS dan menekan harga aset berisiko seperti kripto.
- Angka Inflasi Rendah: Membuka peluang pemotongan suku bunga, yang umumnya memberikan sentimen positif bagi pasar aset digital.
Hal yang Perlu Diperhatikan
Dari perkembangan data ini, pembaca dapat mengambil beberapa poin edukatif penting dalam menavigasi informasi pasar:
- Tinjau Berbagai Indikator Secara Bersamaan: Indikator teknis tunggal seperti Bull Score memberi gambaran tren historis, namun arus kas riil di pasar spot dan futures adalah penentu momentum jangka pendek.
- Waspadai Tingkat Kenaikan Keuntungan (Unrealized Profit): Semakin tinggi marjin keuntungan rata-rata pemegang aset, semakin besar potensi terjadinya tekanan jual akibat aksi ambil untung.
- Pantau Arus Masuk ke Bursa: Kenaikan jumlah deposit aset ke bursa merupakan indikator awal meningkatnya pasokan yang siap dijual di pasar.
Memahami perbedaan antara indikator berbasis tren dan arus permintaan riil dapat membantu pembaca menilai kondisi pasar aset digital secara lebih rasional, objektif, dan proporsional tanpa terjebak pada narasi spekulatif semata.

