Industri kripto tengah mengalami pergeseran fokus yang mendasar. Pada masa awal perkembangannya, ekosistem ini disibukkan dengan penciptaan berbagai kelas aset digital baru—mulai dari Bitcoin, Ether, token tata kelola (governance tokens), NFT, hingga memecoin. Pola yang digunakan selalu serupa: membuat kelas aset digital baru lalu membangun pasar di sekitarnya.
Namun, seiring dengan matangnya industri, fokus tersebut kini beralih. Alih-alih terus-menerus menciptakan aset baru, ekosistem kini lebih diarahkan untuk membangun pasar baru bagi aset-aset nyata yang sudah ada. Perkembangan ini menandakan bahwa teknologi blockchain memiliki peran yang jauh lebih besar dalam sistem keuangan global, terutama sebagai mesin penentu harga.
Pergeseran Paradigma: Dari Aset Baru Menuju Pasar Baru
Menurut Annabelle Huang, salah satu pendiri dan CEO Altius Labs—perusahaan infrastruktur yang merancang blockchain berkinerja tinggi—masa depan kripto akan sangat bergantung pada kemampuannya menyediakan infrastruktur penentuan harga bagi portofolio aset yang terus berkembang di dunia nyata.
Saat ini, kita dapat melihat tiga contoh utama dari pergeseran paradigma ini:
- Prediction Markets (Pasar Prediksi): Wadah yang memungkinkan partisipan mengukur probabilitas terjadinya peristiwa global, seperti pemilu atau rilis data ekonomi.
- Kontrak Perpetual Minyak dan Emas: Platform seperti Hyperliquid kini menyediakan kontrak terus-menerus (perpetuals) untuk komoditas tradisional.
- Pre-IPO Perpetuals: Instrumen yang memungkinkan perdagangan spekulatif atas valuasi perusahaan swasta sebelum mereka melakukan penawaran umum perdana (IPO).
Ketiga produk tersebut membuktikan bahwa blockchain sangat mumpuni untuk memperluas jangkauan hal-hal yang dapat kita beri harga secara real-time. Hal ini berpotensi menjadi kontribusi yang jauh lebih relevan bagi masa depan dunia keuangan global dibandingkan sekadar melahirkan token digital baru.
Price Discovery sebagai Produk Utama
Dalam sistem keuangan tradisional (TradFi), proses price discovery—yaitu proses penentuan harga pasar yang wajar untuk suatu aset berdasarkan interaksi permintaan dan penawaran secara real-time—sering kali dianggap sebagai efek samping dari aktivitas perdagangan. Investor memperdagangkan aset, dan harga kemudian terbentuk secara alami.
Namun, ekosistem kripto mengambil pendekatan yang berbeda. Di sini, price discovery diperlakukan sebagai produk utama itu sendiri. Fenomena ini terlihat jelas pada popularitas kontrak perpetual pra-IPO.
Melalui instrumen ini, trader mungkin tidak akan pernah memiliki saham fisik dari perusahaan swasta tersebut. Namun, mereka sangat menghargai keberadaan sinyal pasar real-time yang menunjukkan persepsi nilai perusahaan tersebut. Dalam konteks ini, pasar blockchain berfungsi sebagai mesin informasi, di mana harga yang dihasilkan adalah output utamanya.
Mengapa Blockchain Unggul dalam Mengukur Nilai?
Ada beberapa karakteristik utama teknologi blockchain yang membuatnya jauh lebih unggul dalam memfasilitasi penemuan harga dibandingkan pasar keuangan tradisional:
1. Operasi Kontinu 24/7
Pasar keuangan konvensional beroperasi secara berkala dan terbatas pada jam kerja tertentu. Bagi perusahaan swasta, penilaian harga bahkan lebih lambat karena hanya diperbarui saat ada putaran pendanaan baru atau evaluasi periodik. Sebaliknya, pasar berbasis blockchain berjalan terus-menerus selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ini memungkinkan pasar langsung menyerap informasi baru kapan pun informasi tersebut muncul di dunia nyata.
2. Aksesibilitas Global tanpa Batas
Di pasar tradisional, perdagangan ekuitas swasta biasanya membutuhkan akreditasi khusus, hubungan eksklusif, dan modal yang sangat besar. Hambatan ini membatasi partisipasi hanya pada segelintir kelompok elit. Blockchain mendemokratisasi akses ini dengan mengizinkan siapa saja yang memiliki koneksi internet untuk mengekspresikan pandangan pasar mereka. Ketika partisipasi meluas, kualitas informasi yang dihimpun oleh pasar pun menjadi lebih akurat.
3. Mengutamakan Eksposur Dibanding Kepemilikan
Memiliki kontrak perpetual yang terikat pada sebuah perusahaan teknologi swasta tidak sama dengan memiliki ekuitas langsung. Pemegang kontrak tidak mendapatkan hak suara pemegang saham ataupun klaim atas arus kas masa depan. Kendati demikian, banyak pelaku pasar modern merasa bahwa memiliki eksposur harga sudah lebih dari cukup. Tren ini sejalan dengan pertumbuhan pasar derivatif global selama beberapa dekade terakhir, di mana investor lebih berfokus pada pergerakan nilai aset dibanding kepemilikan fisik.
Tantangan Infrastruktur yang Harus Diselesaikan
Mewujudkan visi blockchain sebagai mesin informasi skala global tidaklah mudah. Menyediakan pasar global yang beroperasi tanpa henti membutuhkan fondasi teknologi yang jauh lebih kokoh daripada sekadar meluncurkan token baru di jaringan publik.
Pasar berbasis informasi hanya dapat berfungsi optimal jika para partisipan dapat bertransaksi dengan efisien. Oleh karena itu, beberapa faktor teknis berikut menjadi sangat krusial:
- Throughput: Kapasitas jaringan untuk memproses volume transaksi yang tinggi dalam satu waktu.
- Latency: Kecepatan pemrosesan transaksi agar harga yang ditampilkan tetap akurat tanpa penundaan.
- Liquidity Depth: Ketersediaan likuiditas yang cukup dalam untuk meminimalkan fluktuasi harga yang ekstrem saat transaksi besar terjadi.
- Reliability: Keandalan sistem agar pasar dapat terus diakses tanpa adanya waktu henti (downtime).
Saat ini, banyak jaringan blockchain yang masih menghadapi hambatan infrastruktur di area-area tersebut. Hambatan teknis ini berpotensi merusak kualitas sinyal harga dan membatasi partisipasi pasar.
Jika industri kripto ingin menjadi motor utama penemuan harga dunia, fokus pembangunan harus diarahkan pada peningkatan kapasitas jaringan agar mampu mendukung lingkungan perdagangan berfrekuensi tinggi (high-frequency trading), sistem manajemen risiko yang canggih, serta kumpulan modal yang mendalam.

