Perusahaan pengelola treasury aset digital yang berfokus pada Ethereum, Bitmine (BMNR), bersiap mengakhiri aksi pembelian mingguan token ETH yang telah berlangsung sejak pertengahan 2025. Langkah ini diambil setelah total kepemilikan mereka hampir menyentuh batas maksimal yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan.
Ketua Bitmine, Tom Lee, mengumumkan keputusan tersebut saat berbicara di konferensi TOKEN2049 di Singapura. Ia menegaskan bahwa perusahaan akan berhenti melakukan akumulasi begitu kepemilikan mereka menyentuh angka 5% dari total pasokan Ethereum yang beredar di pasar.
Keputusan ini menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar aset digital. Berakhirnya aksi beli Bitmine menandakan bahwa pasar akan segera kehilangan salah satu sumber permintaan institusional yang paling konsisten dalam satu tahun terakhir.
Mendekati Batas 5 Persen Lebih Cepat dari Estimasi
Berdasarkan data operasional terbaru yang dirilis pada hari Senin, Bitmine saat ini telah menguasai 6.016.414 ETH. Jumlah fantastis tersebut setara dengan sekitar 4.9% dari total pasokan beredar Ethereum yang saat ini mencapai 122,1 juta token. Dengan harga ETH di kisaran $2.580, portofolio raksasa ini bernilai sekitar $15,5 miliar.
Untuk mencapai target batas atas 5% tersebut, Bitmine hanya perlu membeli sekitar 100.000 ETH lagi. Tom Lee menyatakan bahwa pencapaian ini terjadi jauh lebih cepat daripada proyeksi awal perusahaan.
“Kami memperkirakan proses ini akan memakan waktu lima tahun,” ujar Lee di atas panggung TOKEN2049. “Namun, kami berhasil menuntaskannya dalam waktu sedikit di atas satu tahun. Terlebih lagi, kami melakukan seluruh akumulasi ini di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami fase jenuh atau bear market.”
Jika Bitmine mempertahankan laju akumulasi seperti minggu lalu—di mana mereka membeli ETH senilai $41 juta—maka tambahan 100.000 ETH tersebut diperkirakan akan terpenuhi dalam waktu enam hingga tujuh minggu ke depan.
Kondisi Likuiditas dan Kerugian Mengambang Bitmine
Secara finansial, Bitmine memiliki kapasitas yang sangat memadai untuk menyelesaikan sisa target pembelian tersebut. Perusahaan melaporkan masih memegang kas serta surat berharga yang dapat dipasarkan senilai $643 juta. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat modal yang dibutuhkan untuk membeli sisa 100.000 ETH pada tingkat harga pasar saat ini.
Meski memiliki kas yang kuat, strategi agresif Bitmine tidak lepas dari risiko pasar. Karena sebagian besar pembelian dilakukan pada masa tren naik (bull market) tahun lalu dengan harga rata-rata yang lebih tinggi, posisi investasi Bitmine saat ini sedang berada dalam kondisi merugi secara pembukuan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh DropsTab, portofolio Ethereum milik Bitmine saat ini mencatatkan kerugian yang belum direalisasikan (unrealized losses) sebesar $4,5 miliar. Kondisi unrealized losses ini merujuk pada penurunan nilai pasar aset dibandingkan harga belinya, namun kerugian tersebut belum bersifat permanen atau terealisasi karena perusahaan belum menjual aset tersebut ke pasar.
Mengapa Langkah Bitmine Ini Penting bagi Navigasi Pasar?
Dalam menavigasi dinamika pasar aset digital, konsistensi permintaan adalah salah satu pilar penopang harga. Bitmine telah menjadi pembeli jangkar (anchor buyer) yang melakukan akumulasi setiap minggu tanpa putus sejak meluncurkan strategi treasury ETH mereka pada Juni 2025.
Ketika pembeli institusional sebesar Bitmine menarik diri dari aktivitas akumulasi aktif dan beralih ke fase retensi (menyimpan aset), pasar akan kehilangan salah satu penyangga likuiditas utamanya. Berkurangnya tekanan beli yang konstan ini berpotensi meningkatkan sensitivitas harga ETH terhadap dinamika pasar global.
Pengumuman ini juga bertepatan dengan periode tekanan pada harga Ethereum. ETH sempat terkoreksi hingga 5% dalam kurun waktu 24 jam ke level terendahnya sejak 20 September, yang merupakan penurunan dua kali lipat lebih dalam dibandingkan koreksi yang dialami Bitcoin (BTC) yang berada di kisaran $83.552,84 pada hari Rabu.
Bagi para investor dan analis, situasi ini menekankan pentingnya memantau struktur kepemilikan aset berkapasitas besar. Ketika entitas pemegang 4,9% pasokan beredar memutuskan untuk mengunci posisinya dan berhenti membeli, fokus pasar kemungkinan besar akan bergeser pada bagaimana sisa likuiditas di pasar retail dan institusi lain merespons hilangnya daya beli mingguan ini.

