Mantan Ketua U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), Jay Clayton, dikabarkan berada di ambang penunjukan sebagai pimpinan kebijakan kecerdasan buatan (AI czar) dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. Peran strategis ini diproyeksikan untuk memimpin unit AI Force guna mengawasi perkembangan pesat industri teknologi domestik di Amerika Serikat.
Penunjukan potensi ini menjadi perhatian penting bagi pelaku industri teknologi maupun pasar aset digital. Sebelum namanya muncul sebagai calon kuat pengawas AI, Clayton memiliki rekam jejak panjang dalam membentuk lanskap regulasi teknologi finansial saat memimpin SEC pada periode 2017 hingga 2020.
Rekam Jejak Jay Clayton di SEC: Awal Era Penegakan Hukum Aset Digital
Di bawah kepemimpinannya di SEC, Jay Clayton meletakkan fondasi awal dari pendekatan regulasi berbasis penegakan hukum (regulation-by-enforcement) terhadap industri aset kripto. Pendekatan ini merujuk pada pola pengawasan di mana otoritas menetapkan batasan atau standar industri melalui tindakan hukum dan gugatan pengadilan, alih-alih menerbitkan kerangka aturan tertulis yang eksplisit sejak awal.
Langkah awal Clayton dimulai pada tahun 2017 dengan membentuk “Cyber Unit” di internal SEC. Unit khusus ini bertugas memantau pasar aset digital yang saat itu didominasi oleh fenomena Initial Coin Offering (ICO). Hingga akhir masa jabatannya pada akhir tahun 2020, SEC di bawah Clayton mencatatkan sebanyak 57 tindakan penegakan hukum terhadap entitas aset digital, bisnis berbasis blockchain, dan penerbit ICO.
Tindakan paling menonjol terjadi tepat menjelang kepindahannya dari SEC pada akhir 2020, ketika lembaga tersebut melayangkan gugatan hukum terhadap Ripple Labs. SEC menuduh Ripple melakukan penawaran sekuritas tidak terdaftar senilai US$1,3 miliar melalui penjualan token XRP. Gugatan tersebut berlanjut bertahun-tahun sebelum akhirnya dihentikan di bawah kepemimpinan Ketua SEC saat ini, Paul Atkins, yang menggugurkan tindakan pengadilan tersebut tahun lalu.
Pemisahan Portofolio Kebijakan: AI dan Aset Digital
Salah satu aspek menarik dari perkembangan ini adalah pemisahan tugas pengawasan antara kecerdasan buatan dan aset digital di tingkat pemerintahan. Ketika Donald Trump pertama kali menunjuk David Sacks sebagai pengawas ekosistem teknologi, peran tersebut menggabungkan portofolio kripto dan AI sekaligus.
Namun, dinamika tersebut bergeser setelah David Sacks mengundurkan diri dari peran pengawas kripto pada Maret. Sejak saat itu, koordinasi kebijakan aset digital di Gedung Putih dipimpin oleh penasihat Patrick Witt. Peran AI czar yang kini berpeluang diisi oleh Clayton diperkirakan memiliki cakupan kerja yang berfokus pada AI, tanpa melibatkan porsi pengawasan langsung terhadap industri aset kripto.
Trump sebelumnya mengumumkan pembentukan AI Force melalui platform Truth Social pada September, membandingkan pembentukan unit pengawasan ini dengan penstrukturan Space Force yang ia gagas pada periode kepresidenan pertamanya.
Pandangan Strategis Terhadap AI dan Keamanan Nasional
Pengalaman Jay Clayton tidak terbatas pada pengawasan pasar modal. Setelah menyelesaikan tugasnya di SEC, Clayton menjabat sebagai dewan direksi di firma ekuitas swasta Apollo Global Management, yang mengalokasikan dana miliaran dolar untuk proyek infrastruktur digital dan AI. Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Jaksa AS untuk Southern District of New York dan diangkat sebagai Direktur Intelijen Nasional tahun ini.
Dalam wawancara dengan CNBC, Clayton menyampaikan pandangannya bahwa pengembangan kecerdasan buatan merupakan isu krusial yang berkaitan langsung dengan keamanan nasional. Ia secara tegas menolak wacana untuk memperlambat atau menghentikan sementara (pause) riset AI domestik.
“Saya tidak berpikir ada warga Amerika yang menganggap [menunda pengembangan AI] sebagai strategi yang baik,” ujar Clayton dalam wawancara tersebut.
Konteks Pergeseran Kebijakan dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Perkembangan ini mencerminkan bagaimana dinamika regulasi di AS terus mengalami evolusi. Pada masa jabatan pertamanya dan hingga tahun 2021, Trump dikenal memiliki pandangan skeptis terhadap aset kripto, bahkan sempat menyatakan bahwa sektor tersebut harus diatur secara sangat ketat.
Namun, lanskap politik dan ekonomi berubah ketika Trump secara terbuka mendukung industri aset digital pada kampanye 2024, termasuk keterlibatannya dalam proyek NFT, memecoin, hingga partisipasi pada World Liberty Financial.
Bagi para pelaku industri dan pengamat pasar, penunjukan pengawas teknologi berlatar belakang penegak hukum seperti Jay Clayton memberikan navigasi penting:
- Fokus Keamanan dan Infrastruktur: Pendekatan pengawasan AI kemungkinan besar akan sangat menitikberatkan pada aspek keamanan nasional dan kesiapan infrastruktur data.
- Pemisahan Jalur Regulasi: Pengawasan terhadap AI dan aset digital kini berjalan dalam struktur operasional yang makin terpisah di pemerintahan AS, sehingga dinamika kebijakan di satu sektor tidak selalu berdampak langsung pada sektor lainnya.
- Kepastian Hukum: Rekam jejak Clayton yang ketat terhadap pendaftaran dan kepatuhan hukum menjadi indikator bahwa pengawasan terhadap batas-batas inovasi teknologi akan tetap berorientasi pada kerangka hukum yang kaku.
Secara keseluruhan, perkembangan ini menegaskan bahwa regulasi sektor teknologi tingkat tinggi di AS bergerak menuju pemisahan spesialisasi yang semakin jelas, di mana tata kelola AI dan aset digital masing-masing membutuhkan penanganan strategis yang spesifik.

