Lanskap hukum yang menaungi industri pasar prediksi (prediction markets) di Amerika Serikat kembali menghadapi dinamika baru. Panel tiga hakim pada Pengadilan Banding Wilayah Keenam AS (Sixth Circuit Court of Appeals) memutuskan bahwa kontrak peristiwa berbasis olahraga yang ditawarkan oleh platform Kalshi bukan merupakan instrumen swap. Konsekuensinya, produk keuangan berbasis prediksi pertandingan tersebut tidak berada di bawah yurisdiksi pengawasan federal Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC), melainkan tunduk pada regulasi perjudian di tingkat negara bagian.
Keputusan tersebut menjadi perkembangan hukum terbaru dalam perselisihan yang berlangsung antara pemerintah negara bagian dan penyedia pasar prediksi. Penilaian dari Pengadilan Banding Sirkuit Keenam ini sekaligus memperlebar perbedaan penafsiran hukum antar-wilayah (circuit split) di tingkat pengadilan federal AS, sebuah kondisi yang secara prosedural meningkatkan urgensi bagi Mahkamah Agung AS (U.S. Supreme Court) untuk turun tangan memberikan kepastian hukum yang final.
Latar Belakang Sengketa Kalshi dan Regulator Negara Bagian
Putusan yang dikeluarkan pada Jumat (25/9/2026) tersebut merespons dua kasus hukum terpisah yang diajukan oleh Kalshi terhadap regulator di negara bagian Ohio dan Tennessee. Dalam perkara ini, Kalshi berupaya mendapatkan putusan sela (injunction) guna mencegah pemerintah kedua negara bagian tersebut mengajukan tuntutan hukum terhadap operasional platformnya. Sebelumnya, pengadilan federal di Ohio menolak permohonan Kalshi, sementara pengadilan federal di Tennessee mengabulkannya.
Perselisihan ini bermula dari pesatnya pertumbuhan platform pasar prediksi yang menawarkan kontrak berbasis hasil pertandingan olahraga, terutama setelah lonjakan aktivitas transaksi pasca-Pemilu AS 2024. Sejumlah negara bagian berargumen bahwa produk yang ditawarkan Kalshi secara substansial identik dengan layanan perjudian olahraga yang dioperasikan oleh situs atau aplikasi taruhan berizin daerah.
Terdapat dua poin krusial yang menjadi keberatan utama pemerintah negara bagian:
- Aspek Perpajakan: Platform yang mengklaim diatur secara federal oleh CFTC umumnya tidak membayar pajak daerah, meskipun secara langsung bersaing dengan operator perjudian terintegrasi yang menyetor pajak ke kas negara bagian.
- Batas Usia Pengguna: Platform pasar prediksi kerap membuka akses layanan bagi pengguna mulai dari usia 18 tahun. Hal ini bertentangan dengan standar regulator perjudian di sebagian besar negara bagian AS yang mewajibkan batas usia minimal 21 tahun.
Edukasi Navigasi: Mengapa Definisi ‘Swap’ Menjadi Kunci Yurisdiksi?
Untuk memahami dampak dari putusan ini, pembaca perlu memahami konsep dasar klasifikasi instrumen keuangan dalam hukum pasar berjangka AS. Dalam regulasi komoditas federal, instrumen swap merujuk pada kontrak derivatif di mana dua pihak bersepakat untuk mempertukarkan arus kas atau risiko keuangan berdasarkan nilai aset, suku bunga, atau kejadian tertentu.
Agar suatu produk finansial dapat dikategorikan sebagai swap di bawah kewenangan pengawasan CFTC, undang-undang mensyaratkan bahwa kontrak tersebut harus bergantung pada peristiwa yang memiliki “konsekuensi finansial, ekonomi, atau komersial yang potensial”.
Dalam pertimbangan hukumnya, panel hakim Sirkuit Keenam sepakat bahwa kontrak olahraga Kalshi memang bergantung pada keterjadian suatu peristiwa (events). Namun, majelis hakim menilai bahwa peristiwa hasil pertandingan olahraga tidak memenuhi batasan statutory sebagai kejadian dengan konsekuensi ekonomi atau komersial langsung sebagaimana dimaksud dalam UU Komoditas AS.
“Meskipun kami setuju dengan Kalshi bahwa kontrak peristiwa olahraganya dikondisikan pada terjadinya suatu peristiwa, kami menyimpulkan bahwa kontrak Kalshi tidak bergantung pada peristiwa yang berhubungan dengan konsekuensi finansial, ekonomi, atau komersial potensial dalam arti undang-undang,” tulis panel hakim dalam salinan putusannya.
Sebagai ilustrasi pertimbangan, majelis hakim mencontohkan skenario kemenangan tim kasti New York Giants dalam ajang Super Bowl. Majelis menjelaskan bahwa penetapan istilah hukum sangat bergantung pada bagaimana peristiwa itu didefinisikan: jika peristiwanya adalah “kemenangan tim”, maka hasil pertandingan adalah keterjadian peristiwa tersebut. Sebaliknya, jika peristiwanya adalah “berlangsungnya pertandingan”, maka kemenangan adalah hasil akhirnya. Karena teks undang-undang tidak memberikan batasan eksplisit untuk mengecualikan hasil akhir dari definisi peristiwa, pengadilan menolak menafsirkan batasan tersebut secara sepihak untuk memasukkan kontrak olahraga ke dalam kategori swap.
Fenomena ‘Circuit Split’ dan Potensi Uji Materi di Mahkamah Agung
Putusan Sirkuit Keenam ini menambah kompleksitas pemetaan hukum pasar prediksi di Amerika Serikat. Saat ini terdapat tiga pengadilan banding wilayah yang telah mengeluarkan pandangan hukum terkait posisi instrumen pasar prediksi:
- Third Circuit Court of Appeals: Sebelumnya memutuskan bahwa CFTC memiliki yurisdiksi pengawasan atas pasar prediksi. Kasus dari Sirkuit Ketiga ini bahkan telah resmi diajukan banding ke Mahkamah Agung AS.
- Eighth Circuit Court of Appeals: Menetapkan bahwa kontrak berbasis peristiwa olahraga bukan merupakan instrumen swap.
- Sixth Circuit Court of Appeals: Sepaham dengan Sirkuit Kedelapan, menyatakan bahwa kontrak olahraga Kalshi bukan swap dan tunduk pada aturan perjudian negara bagian.
Kondisi di mana pengadilan-pengadilan sirkuit di wilayah berbeda mengeluarkan interpretasi hukum yang saling bertentangan inilah yang disebut sebagai circuit split. Dalam sistem peradilan AS, fenomena ini menjadi landasan paling kuat bagi Mahkamah Agung untuk menerima berkas kasasi demi menyelaraskan penerapan hukum federal secara nasional.
Hal yang Perlu Diperhatikan Pelaku Pasar Aset Digital
Bagi pembaca dan pengamat ekosistem pasar digital serta pasar prediksi terdesentralisasi, perkembangan hukum ini memberikan beberapa catatan navigasi penting:
Pertama, pergeseran status pengawasan dari tingkat federal (CFTC) ke regulator negara bagian dapat menciptakan fragmentasi aturan operasional. Setiap negara bagian memiliki kerangka lisensi, standar verifikasi identitas (KYC), batasan umur, dan tarif pajak yang berbeda-beda.
Kedua, kepastian operasional bagi platform pasar prediksi yang melayani segmen olahraga masih harus menunggu arah putusan final dari Mahkamah Agung AS. Selama proses hukum tingkat tinggi tersebut belum mencapai keputusannya, penyedia platform berbasis prediksi berada dalam situasi ketidakpastian regulasi yang menuntut penyesuaian strategi kepatuhan di tiap wilayah operasi.

